Agustus 6, 2018

Tiga Mitos Tentang Bersepeda di Jakarta

Banyak sekali alasan orang untuk akhirnya memutuskan tidak bersepeda di Jakarta. Setelah saya telusuri dan cermati dengan baik sebenarnya hanya ada tiga alasan mengapa orang tak mau menggunakan sepeda sebagai alat transport ke tempat kerja atau kemanapun. Menurut saya tiga alasan tersebut sebenarnya hanya mitos. mengapa saya mengatakan mitos? karena saya menjalaninya sejak November 2006 hingga kini dan terbukti tiga alasan tersebut tidak benar.

Mitos #1 : Kondisi Jalan Raya Jakarta Tidak Ramah Sepeda

Kalau kita membandingkan dengan negara lain yang sudah punya jalur khusus sepeda, tentu Jakarta masih jauh sekali karena kita hanya punya jalur sepeda di kawasan Blok M saja, itupun sudah banyak mobil parkir atau pedagang siomay yang mendominasi jalur sepeda. Jangankan negara lain, dengan kota lain di Indonesia saja Jakarta sudah kalah. Namun biasanya yang ditakutkan orang dalam bersepeda adalah pengemudi motor yang buas dan tak mau mengalah. Untuk hal ini ada kiatnya. Pertama, kita harus ingat bahwa pengemudi motor itu manusia juga, jadi tentu punya hati nurani. Mereka ngebut bukan berarti mau mencelakakan kita, tapi karena mereka ingin cepat sampai di tujuan karena mereka naik motor jelas tujuannya bukan buat olahraga namun biar cepat. Tujuan kita bersepeda kan sekaligus buat olahraga, jadi kita jangan ikut ritme mereka buru-buru, sialakan saja salip. Kedua, di dalam diri kita tanamkan sikap ramah kepada pengendara lain, termasuk motor, mobil dan metro-mini. Kasihan lho mereka, di jalanan yang macet ini mereka harus berhenti; jadi kita harus berempati kepada mereka, bersikap yang “bersahabat” dengan mereka. Bila kita memiliki sikap ini maka justru sebaliknya terjadi, mereka menghargai kita. Suatu malam yang gelap ketika pulang gowes, botol minuman saya jatuh ke jalan raya. Belum juga saya sempat mengambil, seorang pengemudi motor dengan sukarela mengambilnya untuk diberikan ke saya.

Alur gowes kita juga harus konsisten tidak zigzag pindah jalur agar tak membingungkan bagi pengendara kendaraan bermotor. Bila kita konsisten lurus, insya Allah aman. Bila terpaksa pindah jalur, harus beri tanda dengan salah satu tangan, jauh sebelum pindah jalur.

Mitos #2: Polusi

Ini memang tak terbantahkan karena memang lebih bersih bila kita berada di dalam mobil daripada di luar. Namun kalau kita amati pengendara kendaraan bermotor non-mobil semuanya juga menghadapi masalah polusi. Di sinilah kita harus menyiasati agar kita tak terkena polusi dengan cara memakai masker. Ini penting sekali. Saya berprinsip lebih baik gak jadi gowes kalau tak ada masker karena kalau tidak bakalan sesak nafas. Tak ada yang bisa mengurangi polusi karena jumlah kendaraan di Jakarta yang selalu bertambah dan semakin padat. Dengan menggunakan masker, insya Allah bisa tersaring hanya udara yang relatif bersih yang kita hirup.

Dalam hal ini saya tak menyangkal memang kalau udara di Jakarta pada umumnya memang sudah sangat polutif karena begitu banyaknya kendaraan yang mengeluarkan asap tebal dan tak terkendali. Memang paling aman berada di dalam mobil berpenyejuk udara dibandingkan di luar mobil. Menyikapi fakta ini lebih penting ketimbang meratapinya karena percuma, kalau dari ilmu 7 Habits nya Steven Covey, kita cukup fokus di lingkaran pengaruh (circle of influence) kita saja meski kita peduli lingkungan. Artinya, kita masih bisa mencegah masuknya udara kotor tersebut dengan cara menghindarinya. Cara lainnya adalah memilih jalur alternatif yang jarang dilalui mobil maupun motor. Namun biasanya ada tantangan lain: polisi tidurnya banyak sekali sehingga mengganggu kenyamanan gowes. Selain itu, jalur alternatif juga rawan kejahatan karena jarang ada orang lewat di situ. Kalau saya lebih memilih menggunakan masker dan melintas di jalan protokol karena lebih nyaman gowesnya, aspalnya juga mulus sekali dibandingkan jalan alternatif.

Mitos #3: Tak Ada Kamar Mandi dan Tempat Ganti Baju

Ini memang masalah yang bagi saya cukup besar karena saya tipe yang gak bisa gak mandi kalau sudah berkeringat. Dalam sehari saya bisa mandi tiga atau empat kali karena setiap badan berkeringat maka setelah keringat kering saya segera mandi. Untungnya di kantor-kantor pemerintahan biasanya ada kamar mandi yang bisa digunakan. Namun memang kondisinya tak selalu bersih dan kadang tak ada gantungan baju. Alternatif lainnya adalah masjid. Tak semua masjid memiliki kamar mandi yang tak terkunci. Namun ada cara untuk mandi meski di tempat berwudhu, dan itu tak masalah.

Namun belakangan saya menemukan cara lain bila memang tak ada tempat mandi, yakni dari rumah sudah mandi dulu. Begitu tiba di tujuan, cari kedai kopi yang cukup dingin untuk mengeringkan keringat sambil ngopi atau baca buku ringan. Begitu keringat kering, saya pakai handuk basah B-Cool yang kainnya seperti Kanebo untuk membilas badan yang tadinya berkeringat. Setelah itu pakai baju kerja. Beres sudah.

Jadi …memang kita harus berpikir untuk mencari solusi. Pada awalnya memang berat. Namun kalau sudah terbiasa, jadi gak masalah.

Selamat mencoba!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: